manfaat sarang semut


setelah sekian lama saya tidak mengunjungi blog ini, sekarang saya ingin berbagi tentang manfaat sarang semut

Sarang Semut telah digunakan banyak orang untuk membantu pengobatan kanker dan tumor baik dalam stadium awal maupun stadium lanjut. Tentu saja jika pengobatan dilakukan pada stadium awal, persentase kesembuhan akan lebih tinggi karena kondisinya belum terlalu parah. Karena berupa herbal, khasiat Sarang Semut tidak langsung terasa secara instan seperti obat-obatan medis yang dapat secara cepat membunuh sel-sel kanker. Tetapi tentu saja pengobatan medis memiliki efek samping yang jauh lebih berat dibandingkan dengan pengobatan herbal yang lebih alami.

Beberapa pengalaman konsumen menunjukkan bahwa Sarang Semut efektif dalam membantu pengobatan kanker dan tumor, tetapi yang perlu diingat adalah efek herbal tidak sama pada setiap orang. Normalnya dalam waktu 1-2 bulan sudah akan terlihat perbaikan yang signifikan, tetapi ada pula yang menunjukkan reaksi positif dalam waktu lebih singkat atau pun lebih lama dari 1-2 bulan. Selain mengkonsumsi herbal, sangat penting untuk menjaga pola makan yang baik serta pola hidup sehat.

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Makalah

WARALABA

Dipresentasikan dalam mata kuliahfiqh Kontemporer

 

IAIN

 

 

 

 

 

 

Oleh:

ERIADI

NIM. 088111 575

 

Dosen Pembimbing:

Prof. Dr. H. Makmur Syarif, SH.M.Ag

 

 

 

KONSENTRASI SYARI’AHPROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

 IMAM BONJOLPADANG

1433 H/2012 M

 

 

WARALABA

(PEMBUKAAN CABANG/PENGGUNAAN HAK PATEN)

A.  PENDAHULUAN

Waralaba digambarkan sebagai perpaduan bisnis besar dan kecil yaitu perpaduan antara energi dan komitmen individu dengan sumber daya dan kekuatan sebuah perusahaan besar. Waralaba adalah suatu pengaturan bisnis dimana sebuah perusahaan (franchisor) memberi hak pada pihak independen (franchisee) untuk menjual produk atau jasa perusahaan tersebut dengan pengaturan yang ditetapkan oleh franchisor. Franchisee menggunakan nama, goodwill, produk dan jasa, prosedur pemasaran, keahlian, sistem prosedur operasional, dan fasilitas penunjang dari perusahaan franchisor. Sebagai imbalannya franchisee membayar initial fee dan royalti (biaya pelayanan manjemen) pada perusahaan franchisor seperti yang diatur dalam perjanjian waralaba.[1]

Waralaba adalah sebuah bisnis gaya baru yang dikenalkan pertama kali oleh Amerika. Ulama belum banyak membahas tentang masalah ini. Bahkan ulama klasik belum pernah membahas masalah ini. Waralaba ini adalah masalah kontemporer, dalam makalah ini akan dipaparkan tentang sistem waralaba.

B.  WARALABA (FRANCHISE)

1.    Pengertian waralaba

Di indonesia kata franchise sama artinya dengan waralaba. Kata franchise berasal dari bahasa Prancis. Dalam kamus Prancis Indonesia dikatakan Franchise yaitu hak suatu kota, badan, orang (yang tidak dapat diletakan oleh penguasa)[2]. Yang tidak diletakan penguasa berarti bebas atau lebih lengkapnya lagi bebas dari penghambaan (free from servitude).

Para pakar memeberikan beberapa pengertian tentang waralaba diantaranya:

a.       M. Jafar mengemukakan pengertian waralaba adalah pola hubungan kemitraan antara kelompok mitra usaha dengan perusahaan mitra usaha yang memberikan hak lisensi, merek, saluran distribusi perusahaannya kepada mitra usaha sebagai penerima waralaba yang disertai dengan bantuan teknis bimbingan manajemen.[3]

b.      Yoseph Mancuso Mengemukakan pengertian waralaba adalah Franchise merupakan suatu istilah yang menunjukan hubungan antara dua pihak atau lebih guna mendistribusikan barang atau jasa.[4]

c.       Douglas J. Quen mengatakan bahwa franchise ialah suatu metode perluasan, pemasaran dan bisnis, yaitu perluasan dan distribusi produk serta pelayanan dengan membagi bersama standar pemasaran dan operasional.[5]

d.      Dalam buku ensikopledi manajemen mengungkapkan pengertian waralaba adalah hak istimewa atau hak khusu yang diberikan oleh pemerintah untuk mengoperasikan pelayanan kendaraan untuk umum, misalnya motor dan jalan di kota tertentu. Dan istilah inipun kadang-kadang dipergunakan untuk menunjukan hak istimewa oleh organisasi swasta, misalnya pemberian wilayah eklusif pada agen penjualan oleh suatu perusahaan swasta.[6]

 

Dalam kamus besar ekonomi dikatakan bahwa Franchise adalah hak untuk memasarkan suatu produk;

1.      Hak istimewa yang diberikan pemerintah kepada suatu badan atau perseorangan untuk memproduksi memasok atau menjual produk tertentu.

2.      Hak istimewa yang diberikan pemerintah kepada perseorangan atau badan usaha untuk menyelenggarakan usahanya di tempat tertentu.[7]

Menurut asosiasi Franchise International adalah suatu hubungan berdasarkan kontrak antara franchisor dengan franchise. Pihak franchisor menawarkan dan berkewajiban memelihara kepentingan terus menerus pada usaha franchise dalam aspek-aspek pengetahuan dan pelatihan. Sebaliknya franchisee memiliki hak untuk beroperasi di bawah merek atau nama dagang yang sama, menurut format dan prosedur yang ditetapkan oleh franchisor dengan modal dan sumber daya franchisee sendiri.[8]

Menurut Asosiasi Franchise Indonesia yang dimaksud dengan franchise adalah sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, dimana pemilik merek (franchisor) memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu.

Waralaba menurut pasal 1 peraturan Pemerintah RI No 16 tahun 1997 adalah perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan dan atau penjualan barang dan jasa.

Menurut pasal 1 PP No. 42 Tahun 2007 pengertian waralaba adalah hak khusu yang dimiiki oleh orang perseorangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis dengan ciri khas usaha dalam rangka memasarkan barang dan atau jasa yang telah terbukti dan dapat dimanfaatkan dan atau digunakan oleh pihak lain berdasarkan perjanjian waralaba.

Menurut peraturan Menteri Perdagangan RI no. :31/M-DAG/PER/8/2008 tentang penyelenggaraan waralaba, pengertian waralaba adalah hak khusus yang dimiliki oleh perseorangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis dengan ciri khas usaha dalam rangka memasarkan barang dan atau jasa yang telah terbukti berhasil dan dapat dimanfaatkan dan atau digunakan oleh pihak lain.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat diambbil sebuah kesipulan yang dimaksud dengan waralaba adalah hubungan antara dua pihak atau lebih, guna mendistribusikan barang atau jasa yang telah terbukti berhasil melalui franchisee yang membayar fee dan royalty kepada franchisor sesuai perjanjian. Dengan demikian, secara resmi franchisee dapat menggunakan nama dan sistem perusahaan tersebut.

2.      Karakteristik waralaba

Dalam bab II Pasal 3 PP No. 42 Tahun 2007 dan bab II pasal 2 dan 3 Peraturan Menteri perdagangan RI No. 31/MDAG/PER/8/2008, disebutkan kriteria dan ruang lingkup waralaba:

1.      Waralaba harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

a.       Memilik ciri khas usaha

b.      Terbukti sudah memberikan keuntungan

c.       Memiliki standar atas pelayanan dan barang dan atau jasa yang ditawarkan yang dibuat secara tertulis

d.      Mudah diajarkan dan diaplikasikan

e.       Adanya dukungan yang berkesinambungan dan

f.       Hak kekayaan Intelektual (HKI) yang telah terdaftar.

2.      Waralaba terdiri dari pemberi waralaba dan penerima waralaba. Pemberi dan penerima waralaba ini bisa berasal dari dalam negeri dan luar negeri.

Pemberi waralaba adalah orang perorangan atau badan usaha yang memberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan waralaba yang dimilkinya kepada penerima waralaba. Penerima waralaba adalah orang perseorangan atau badan usaha yang diberikan hak oleh pemberi waralaba untuk memanfaatkan dan atau menggunakan waralaba yang dimiliki pemberi waralaba.

3.      Prosedur Kerja Waralaba

Adapun yang dimaksud dengan prosedur kerja waralaba adalah tahap-tahap yang harus dilalui oleh calon penyewa lisensi. Tahap-tahap tersebut sebagai beriku:

a.       Calon penyewa lisensi sebaiknya terlebih dahulu mengadakan penelitian dan mempelajari brosur-brosur tentang lisensi waralaba yang akan disewa. Dalam pasal 4 peraturan Menteri Perdagangan RI nomor : 31/MDAG/PER/8/2008 menyatakan : pemberi waralaba harus memberikan prospekrus penawaran waralaba kepada colon penerima waralaba paling singkat 2 (dua) minggu sebelum penandatangan perjanjian waralaba.

b.      Apabila telah memahaminya secara mendalam, maka calon penyewa lisensi membuata surat permohonan (proposal) atau mengisi formulir yang diedarkan oleh pemilik lisensi dan mengirim kealamatnya. [9]

c.       Apabila data-data yang dikirimkan tersebut memenuhi syarat yang diinginkan oleh pemilik lisensi, maka calon dapat diterima sebagai mitra usaha.

d.      Selanjutnya pemilik lisensi atau wakilnya mengadakan survey ke lokasi yang diusulkan guna melihat apakah lokasi tersebut layak atau tidak. Artinya, jika lokasi tersebut layak, maka ada harapan besar untuk sukses.

e.       Setelah segala sesuatu memenuhi syarat, pemilik lisensi memberi tenggang waktu selama dua minggu kepada calon penyewa lisensi untuk merenungkan, sampai calon merasa puas dan mantap untuk menjalin kerjasama dengan pemilik lisensi.

f.       Kemudian dilanjutkan penanda tanganan perjanjian, menulis cek dan berjabat tangan. Dengan demikian resmilah calon penyewa sebagai pengusaha waralaba dan berhak menggunakan fasilitas yang terkandung dalam perjanjian yang disepakati dan berkewajiban membayar royalty selama kontrak berjalan. Hal ini dijelaskan dalam pasal 5 peraturan Menteri Nomor : 31/MDAG/PER/8/2008 : (1) waralaba diselenggarakan berdasarkan perjanjian tertulis antara pemberi waralaba dan penerima waralaba dan mempunyai kedudukan hukum yang setara dan terhadap mereka berlaku hukum Indonesia. (2) perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus disampaikan kepada calon penerima waralaba paling singkat 2 minggu sebelum penandatanganan perjanjian.

g.      Pemilik lisensi akan memberikan bimbingan dan latihan menghasilkan produk, manajemen, produk dan tatacara pelaksanaan perusahaan tersebut. Bagi calon waralaba yang hanya menyewa nama dan menjalankan sendiri, maka pihak pemilik lisensi akan memberikan bimbingan, training teknis dan pengarahan pemasaran. Apabila calon waralba hanya menyediakan modal dan tempat saja, maka pemilik lisensi akan memberikan bimbingan manajemen dan menyediakan tenaga kerja serta pelatihannya.

Dalam pasal 8 PP No 42 tahun 2007 di sebutkan bahwa: pemberi waralaba wajib memberikan pembinaan dalam bentuk pelatihan, bimbingan operasional manajemen, pemasaran, pelatihan dan pengembangan kepada penerima waralaba secara berkesinambungan.

h.      Pemilik lisensi akan mengamati perkembangan usaha terebut tetapi tidak terlibat dalam usaha sehari-hari karena yang mengelola adalah pihak penyewa lisensi.

 

 

4.      Tinjauan Hukum Islam Terhadap Sitem Waralaba

Dalam Islam hak cipta suatu merek dan produk dapat digolongkan kepada harta, karena diciptakan untuk kemaslahatan manusia dan dapat dipergunakan pada waktu tertentu. Hak cipta di dalam fiqh disebut dengan haqq al-ibtikar atau haaq al-ibda’[10]. Mengenai haqq al Ibtikar ini hanya akan dijelaskan tentang empat hal:

a.       Pengertian haqq ib tikar

Secara etimologi al-ibtikar berarti ciptaan, penmuan, inovasi[11] ibtikar dalam fiqh adalah hak cipta/kreasi yang dihasilkan seseorang untuk pertama kali. Di dalam dunia ilmu pendidikan al-ibtikar disebut dengan hak cipta.[12]

Secara terminologi haqq ibtikar tidak dijumpai dalam literatur fiqh kalsik pembahasan yang sitematis tentang haqq al ibtikar, karenanya juga sulit diketahui defenisinya dari tokoh-tokoh fiqih klasik. Pembahasan haqq al-ibtikar banyak dijumpai dalam pembahasan ulama fiqh kontemporer. Dr Fathi ad-Duraini, guru besar fiqh di Universitas Damaskus , Syiria, menyatakan bahwa ibtikar adalah: gambaran pemikiran yang dihasilkan seseorang ilmuan melalui kemampuan pemikiran dan analisisnya dan hasilnya merupakan penemuan atau kreasi pertama, yang belum dikemukakan ilmuan sebelumnya.[13]

Defenisi ini mengandung pengertian bahwa dari segi bentuk, hasil pemikiran ini tidak terletak pada materi yang berdiri yang dapat diraba dengan alat indra manusia, tapi pemikiran itu baru berbentuk dan punya pengaruh apabila telah dituangkan ke dalam tulisan seperti buku atau media lainnya. Hasil pemikiran itu bukan ciplakan atau pengulangan dari pemikiran ilmuan sebelumnya dan bukan pula berbentuk saduran. Akan tetapi ibtikar ini bukan berarti sesuatu yang baru sama sekali, tetapi juga berbentuk suatu penemuan sebagai perpanjangan dari teori ilmuan sebelumnya, termasuk di dalamnya terjemahan hasil pemikiran ilmuan yang dibantu alat teknologi sehingga melahirkan suatu produk. Dalam waralaba hasil penmuan hak cipta ini akan dijadikan produk yang diberi merek lalu didaftarkan pada kantor umum merek, maka lahirlah hak merek, inilah yang dijadikan objek dalam bisnis sistem waralaba.[14]

b.      Sifat ibtikar dari segi fiqh

Ibtikar hanyalah merupakan suatu gambaran pemikiran dan gambaran ini akan berpengaruh luas apabila telah dipaparkan atau dituliskan di atas suatu media. Misalnya, buah pikiran ilmuan sebagai ibtikar sebenarnya hanyalah sebuah gambaran pemikiran yang belum berwujud material. Akan tetapi, apabila pemikiran telah dituangkan dalam sebuah buku, maka buah pikiran itu akan berpengaruh luas, baik dari segi material maupun pemikiran. Oleh sebab itu, menurut ulama fiqh, ibtikar itu apabila dilihat dari sisi materialnya, lebih serupa dengan manfaat hasil materi, seperti buah-buahan dan susu hewan perahan, apabila telah dipetik dari pohonnya dan perah dari hewan itu, karena pemikiran seseorang setelah dipisahkan dari pemikirannya dan dipaparkan pada suatu media, maka ia menjadi bersifat materi.

Para ulama fiqh membedakan antara hasil pemikiran seseorang dengan hasil atau manfaat suatu benda dari dua sisi, yaitu:

a.    Dari segi jenisnya, manfaat suatu benda, baik bergerak maupun tidak bergerak, seperti manfaat rumah, lahan, buah-buahan, kendaraan, dan hewan, berasal dari sumber yang bersifat material, yaitu rumah, lahan, pepohon, kendraan itu sendiri, dan hewan. Sedangkan sumber dari pemikiran sebagai suatu ciptaan atau kreasi seseorang bersumber dari akal seseorang manusia yang hidup dan mengerahkan kemampuan berpikirnya. Oleh sebab itu, dalam ibtikar, sumber materialnya tidak kelihatan.

b.     Dari segi pengaruhnya, manfaat dari benda-benda material, menurut ‘Izzudin ibnu Abd Salam, pakar fiqh Syafi’i, merupakan tujuan uatama dari suatu benda dan manfaat inilah yang dijadikan tolok ukur dari suatu benda. Akan tetapi, pengaruh dari suatu pemikiran lebih besar dibanding manfaat suatu benda, karena pemikiran yang dituangkan dalam sebuah buku akan membawa pengaruh besar dalam kehidupan manusia dan menunjukan jalan bagi umat manusia itu. Hasil pemikiran inilah yang membedakan antara seseorang dengan yang lainnya. Sebagaimana firman Allah swt dalam az-Zumar (39) :9 :

3ö@è%ö@yd“ÈqtGó¡o„tûïÏ%©!$#tbqçHs>ôètƒtûïÏ%©!$#urŸwtbqßJn=ôètƒ3

Artinya : Apakah sama antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?.. (QS. Az-Zumar (39):9)

c.       Dasar Hukum Haqq Ibtikar

Para ulama fiqh sepakat menyatakan bahwa landasan hak cipta atau kreasi dalam fiqh Islam adalah urf ( suatu kebiasaan yang berlaku umum dalam suatu masyarakat) dan maslahah al mursalah (suatu kemaslahatan yang tidak didukung oleh ayat dan hadits, tetapi juga tidak ditolak). Urf dan almaslahah al mursalah dapat dijadikan dasar dalam menerapkan hukum dan hukum yang ditetapkan itu merupakan persoalan-persoalan duniawiah. Menurut para ulama fiqh, sejak dikenalnya dunia cetak mencetak, umat manusia telah melakukan suatu komoditi baru, yaitu memaparkan hasil pemikiran mereka dalam sebuah media serta memperjual bleikannya pada masyarakat luas. Di samping itu, hasil pemikiran, ciptaan atau kreasi seseorang mempunyai pengaruh besar dalam mendukung kemaslahatan umat manusia sejalan dengan tujuan syaria’at. Oleh karena itu, keberadaan ibtikar sebagai salah satu materi yang bernilai harta tidak diragukan lagi.[15]

 

d.      Hak Kepemilikan Dalam Ibtikar

Para ulama fiqh sepakat menyatakan bahwa hak kepemilikan mubtikar (pemikir dan pencipta suatu kreasi) terhadap hasil pemikiran dan ciptaannya adalah milik yang bersifat material. Oleh sebab itu, hak ibtikar apabila dikaitkan dengan tabiat mal (harta) dapat ditransaksikan, dapat diwarisi jika pemiliknyua meninggal dunia dan dapat dijadikan wasiat jika seseorang ingin berwasiat. Dengan demikian hak cipta/kreasi memenuhi segala harta-harta lainnya yang halal. Para ulama fiqh mnyatakan bahwa hak cipta atau kreasi seseorang harus mendapatkan perlindungan hukum yang sama dengan harta lainnya.

Akan tetapi Imam al-Qarafi (w. 684/1285 M), pakar fiqh Maliki, berpendapat bahwa sekalipun hak ibtikar itu merupakan hak bagi pemiliknya, tetapi hak ini tidak bersifat harta, bahkan tidak terkait sama sekali dengan harta. Oleh karena itu, menurutnya hal ibtikar tidak boleh diwariskan, tidak boleh diwasiatkan, dan tidak boleh ditransaksikan dengan transaksi yang bersifat pemidahan hak milik. Alasannya adalah karena yang menjadi sumber hak ini adalah akal dan hasil akal yang berbentuk pemikiran tidak bersifat material yang boleh diwariskan, diwasiatkan dan ditransaksikan. Rasulullah saw, dalam sabdanya :

مَن مَاتَ وَلَهُ الْحَقُ فَلِوَرَثَتِهِ

Orang yang wafat dan meninggalkan hak, maka ahli warisnya akan mewarisi hak itu. (HR Abu Daud)

Hadis di atas bermaksud mengatakan bahwa yang akan dibagi itu adalah hak yang bersifat harta, bukan seluruh hak, karena ada hak yang boleh dipindahtangankan, seperti harta, dan ada hak yang tidak boleh dipindahtangankan, seperti hak ibtikar. Pendapat al-Qarafi ini bertentangan dengan pendapat mayoritas ulama Malikiyah lainya seperti ibnu ‘Urfah. Menurut ‘Urfah hak ibtikar setelah dituangkan dalam sebuah media memiliki nilai nilai harta yang besar, bahkan melebihi nilai sebagian harta benda material lain.

Seseorang berhak mengembangkan atau mendistribusikan hartanya. Salah satu caranya adalah dengan cara waralaba. Pemilik lisensi memberikan izin kepada pihak lain untuk menggunakan merek dagang suatu produk untuk diperdagangkan dengan membuat suatu perjanjian.

Dalam waralaba terdapat tiga transaksi yang berada dalam satu aqad, yaitu transaksi sebagai sewa lisensi merek, transaksi sebagai sewa manajemen dan pembayaran royalty. Tiga transaksi dalam satu aqad ini perlu ditinjau dari segi hukum Islam apakh dibolehkan atau dilarang.

1.      Transaksi pembayaran sewa lisensi

Dalam transaksi pertama ini adalah sewa lisensi merek atau franchise fee. Kewajiban membayar sewa lisensi tersebut dilakukan pada awal kesempatan, dan biasanya dilakukan dua tahap. Franchiso umumnya akan meminta ansuran pertama atau suatu deposito kepada franchise pada saat pembicaraan awal, sedangkan sisanya dilunasi pada saat penandatanganan perjanjian (aqad) franchise.[16]

Pembayaran sewa lisensi dilakukan karena merek dagang tersebut adalah hak milik. Hak milik ini tidak dapat digunakan orang lain kecuali atas izin pemiliknya. Untuk mendapatkan izin untuk menggunakannya harus membuat perjanjian dan membayar lisensi, maka pihak kdua sudah berhak memakai merek dagang dari suatu produk tersebut sesuai perjanjian.

Transaksi pertama ini dapat dibenarkan dalam Islam. Ini sama saja dengan bentuk transaksi sewa lainnya yaitu barangnya diterima dan uangnya dibayarkan.  Akad dalam sewa menyewa adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa, tanpa diikuti pemindahan kepemilikan barang itu sendiri.[17]

 

 Ttransaksi pembayaran sewa lisensi kalau dianalogikan kepada ijarah haruslah memperhatikan lima hal[18]

a.       Para pihak yang menyelenggarakan akad khususnya waralaba (antara franchisor dan franchise) harus berbuat atas kemauan sendiri dengan penuh kerelaan. Ketenteuan ini dapat dilihat dalam surat an-Nisa’ (4): 29

$yg•ƒr¯»tƒšúïÏ%©!$#(#qãYtB#uäŸw(#þqè=à2ùs?Nä3s9ºuqøBr&Mà6oY÷t/È@ÏÜ»t6ø9$$Î/HwÎ)br&šcqä3s?¸ot»pgÏB`tã<Ú#ts?öNä3ZÏiB4Ÿwur(#þqè=çFø)s?öNä3|¡àÿRr&4¨bÎ)©!$#tb%x.öNä3Î/$VJŠÏmu‘ÇËÒÈ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengann jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah maha penyayang kepadamu.(QS an-Nisa(4):29)

b.      Di dalam melakukan akad tidak boleh ada unsur penipuan baik yang datang dari muajjir (pihak yang menyewakan atau franchisor) ataupun dari mustajir (orang yang menyewa atau franchise)

c.       Sesuatu yang diakadkan itu mestilah sesuai dengan realitas bukan sesuatu yang tidak berwujud. Maka pada waralaba ada produk, mereka serta royalty yang jelas yang telah disepakati.

d.      Manfaat dari sesuatu yang jadi objek transaksi ijarah pada waralaba mestilah sesuatu yang mubah bukan sesuatu yang haram.

e.       Pemberian uapah atau imbalan dalam ijarah mestilah berupa sesuatu yang bernilai, baik berupa uang ataupun jasa yang tidak bertentangan dengan kebiasaan yang berlaku.

 

 

2.      Transaksi pembayaran sewa manajemen

Dalam transaksi kedua ini adalah pembayaran honor oleh franchisee kepada franchisor, yang dikaitkan dengan jasa teknis dan menajerial yang diberikan oleh franchisor kepada franchisee, yang dikenal dengan sewa menyewa.

Dalam sistem waralaba, franchisor berkewajiban memberikan bimbingan kepada franchisee. Bimbingan tersebut meliputi pelatihan teknik mengahasilkan produk dan pelatihan tentang manajemen produk yang dihasilkan. Oleh sebab itu, franschsor berhak untuk menerima pembayaran dari franschisee. Penyewa berkewajiban membayar jasa pelatih (franschisor) atau honor tenaga ahli. Pembayaran honor atau jasa itu dalam Islam disebut upah. Dalam Islam disuruh membayarkan upah orang yang bekerja dengan kita, sabda Nabi:

اَعْطُوا الاَجِيْرَ اَجْرَهُ قَبْلَ اَنْ يَجُفَ عَرَقَهُ (رواه ابو يعلى وان ماجه والطبرنى والترمذى)

Dari Ibn Umar ra dia berkata, bahwa Rasulullah bersabda: berikanlah upah kepada orang yang kamu pakai sebelum kering keringatnya.

Dalam transaksi kedua ini juga berbentuk sewa- menyewa yaitu: upah mengupah dan masih erat kaitannya dengan transaksi pertama. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kedua transaksi yang berada dalam satu akad ini termasuk ke dalam ijarah, yang dibenarkan oleh Islam.

3.       Transaksi pembayaran royalty

Pembayaran royalty adalah salah satu ciri atau spesifik dari waralaba. Di dalam sistem sewa-menyewa (ijarah) tidak ada mengenal yang namanya royalty. Dalam ijarah, apabila suatu benda telah disewakan manfaatnya, maka keuntungannya adalah milik penyewa bukan lagi milik pemilik benda. Royalty dalam waralaba dikeluarkan sebagai imbalan jasa bagi pemilik merek yang sudah go public. Itu menjadi syarat dari penyewaan merek yang dugunakan sebagai pemegang lisensi. Sedangkan fee franchise hanya sebagai biaya atas pemberian izin untuk memakai merek dari produk dan hanya stu kali saja.

Dalam waralaba jasa franchisor sangatlah besar karena dia telah memberikan izin kepada franchisee untuk memakai merek suatu produk yang sudah terkenal. Franchisee tidak lagi susah payah untuk mempromosikannya karena produknya sudah dikenali oleh orang banyak, kemduian bahan-bahan dan peralatannya sudah dipersiapkan oleh franchisor walaupun dibayar. Seorang franchisee akan mudah mendapatkan keuntungan yang sangat besar karena sudah terkenal.  Selama royalty bisa diberikan oleh franchisee maka akad penggunaan merek boleh diperbaharui terus setiap habis masa kontraknya.

Royalty adalah suatu hal yang wajar dibayarkan sebagai balas jasa dari franchisor, yang dalam islam dinamakan dengan ijarah. Royalty tidak merupakan tipuan karena telah disepakati bila sipnyewa sanggup membayarnya barulah akad dapat berlansung. Jadi akad berlansung atas suka saka sama suka.

Dari uaraian di atas dapat dipahami bahwa sistem waralaba adalah berbentuk sewa menyewa bersarat. Hal ini lah yang membedakannya dengan ijarah dalam ekonomi Islam. Syarat dalam sitem waralaba ini selagi tidak menghalalkan yang haram atau tidak pula mengharamkan yang halal maka hukumnya boleh sesusai dengan hadits Rasulullah yang berbunyi:

عن ابي الطاهر قال رسول الله ص م : المسلمون على شروطهم الا شرطا احل حراما او حرم حلالا (زوه الترمذى)

Orang Islam itu terikat oleh beberapa syarat kecuali syarat-syarat tersebut menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.

Dalam akad wara laba tidak ada pihak yang dirugikan dan tidak ada unsur garar sesuai pula dengan hadits di atas tidak menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Dengan demikian penyewa harus memenuhi syarat yang terdapat dalam sistem waralaba karena tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Dilihat dari segi hubungan kerja antara pemilik dan penyewa lisensi adalah hubungan yang mengandung unsur tolong-menolong. Seorang franchisor telah membantu franchisee untuk membuka usaha dan franchise telah memberikan imbalan uang atas jasa dari franchisor. Islam mengnjurkan tolong menolong dalam hal kebaikan sesuai daam firman Allah dalam surat al-Maidah :2

:¢(#qçRur$yès?ur’n?tãÎhŽÉ9ø9$#3“uqø)­G9$#ur(Ÿwur(#qçRur$yès?’n?tãÉOøOM}$#Èbºurô‰ãèø9$#ur4

Artinya: Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…

Dari segi bentuk transaksi yang dilakukan adalah sewa-menyewa dan upah mengupah. Dapt diserupakan dengan sistem ijarah dalam ekonomi Islam seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Dalam Islam kita dituntut untuk saling bantu membatu satu sama lain dan tidak ada larangan untuk memebrikan upah kepada orang yang telah membantu kita. Firman Allah dalam surat al-Baqarah (2): 233

3÷bÎ)uröN›?Šu‘r&br&(#þqãèÅÊ÷ŽtIó¡n@ö/ä.y‰»s9÷rr&Ÿxsùyy$uZã_ö/ä3ø‹n=tæ#sŒÎ)NçFôJ¯=y™!$¨BLäêø‹s?#uäÅ$rá÷èpRùQ$$Î/3(#qà)¨?$#ur©!$#(#þqßJn=ôã$#ur¨br&©!$#$oÿÏ3tbqè=uK÷ès?׎ÅÁt/ÇËÌÌÈ

Artinya : dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa dbagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Abaqarah (2): 233)

Banyak hal yang terdapat dalam ijarah juga terdapat dalam waralaba seperti dua orang yang berakad sama-sama sudah dewasa (baligh). Objek yang disewakan jelas. Manfaat yang disewakan harus sesuatu yang dapat diterima oleh agama, artinya tidak berbentuk maksiat. Jelas batas waktunya agar tidak terjadi perselisihan antara kedua belah pihak. Upah atau imbalan yang diberikan berupa suatu yang berharga atau yang bernilai. Dengan demikian sistem waralab berdekatan dengan sistem ijarah. Nilai yang terdapat pada kedua sistem ini adalah nilai saling tolong menolong, karena pada prinsipnya kdua sistem ini memberikan bantuan kepada pihak lain yang membutuhkan bantuan.

Disamping ada persamaan juga terdapat perbedaan antara kedua sistem ini diantaranya: sistem ijarah orang yang memebrikan sesuatu yang diambil manfaatnya oleh orang lain tidak ikut mengelola pemanfaatan barang tersebut. Sedangkan waralaba, pemilik waralaba ikut mengontrol dan memimbing penyewa, terutama dala manajemen dan tatacara dalam teknis produk. Dalam ijarah keuntungan yang diperoleh adalah hak penyewa, sedangkan dalam waralaba pemilik waralaba memperoleh persentase keuntungan dari hasil penjualan. Dalam iajrah yang disewakan adalah barang dan jasa saja, sedangkan dalam waralaba selain keduanya juga termasuk merek dan teknologi suatu bisnis.

Muamalah itu boleh dilakukan selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar dalam ekonomi Islam yaitu:

1.        Muamalah harus dilakukan atas dasar suka-sama suka, artinya tidak ada keterpaksaan sesuan dengan firman Allah dalam surat al-Nisa’ (4): 29

$yg•ƒr¯»tƒšúïÏ%©!$#(#qãYtB#uäŸw(#þqè=à2ùs?Nä3s9ºuqøBr&Mà6oY÷t/È@ÏÜ»t6ø9$$Î/HwÎ)br&šcqä3s?¸ot»pgÏB`tã<Ú#ts?öNä3ZÏiB4Ÿwur(#þqè=çFø)s?öNä3|¡àÿRr&4¨bÎ)©!$#tb%x.öNä3Î/$VJŠÏmu‘

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling mamakan harta sesamamu dengan cara yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka samasuka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah maha penyayang kepadamu (QS al-Nisa’ (4):29)

2.        Muamalah itu haru mewujudkan kemaslahatan artinya bukan mendatangkan kemudaratan sesuai dengan kaidah-kaidah ushul fiqh bahwa kemudaratan itun harus dihilangkan.

3.      Muamalah itu harus terhindar dari unsur garar atau penipuan dan unsur riba. Karena riba itu haram sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 275:

šúïÏ%©!$#tbqè=à2ùtƒ(#4qt/Ìh9$#ŸwtbqãBqà)tƒžwÎ)$yJx.ãPqà)tƒ”Ï%©!$#çmäܬ6y‚tFtƒß`»sÜø‹¤±9$#z`ÏBÄb§yJø9$#4y7Ï9ºsŒöNßg¯RrÎ/(#þqä9$s%$yJ¯RÎ)ßìø‹t7ø9$#ã@÷WÏB(#4qt/Ìh9$#3¨@ymr&urª!$#yìø‹t7ø9$#tP§ymur(#4qt/Ìh9$#4`yJsù¼çnuä!%y`×psàÏãöqtB`ÏiB¾ÏmÎn/§‘4‘ygtFR$$sù¼ã&s#sù$tBy#n=y™ÿ¼çnãøBr&ur’n<Î)«!$#(ïÆtBuryŠ$tãy7Í´¯»s9résùÜ=»ysô¹r&͑$¨Z9$#(öNèd$pkŽÏùšcrà$Î#»yzÇËÐÎÈ

 

Artinya : Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, pada hal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lau terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali mengambil riba, maka orang itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sistem waralaba yang terdapat di dalamnya istilah sewa bersyarat yaitu menyewa merek dengan syarat membayar royalty yang dibenarkan dalam hukum Islam asalkan sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi Islam.

 

 

 

 

C.    Penutup

1.      Waralaba adalah suatu sistem bisnis baru yang dikenalkan oleh amerika dan menjadi bisnis yang  diterima oleh pemerinatahan Indonesia dengan dikeluarkannya eraturan-peraturan tentang waralab tersebut.

2.      Waralaba adalah kerjasama antara franchisor dengan franchise untuk memperluas pemasaran suatu produk yang sudah dikembangkan oleh franchisor terlebih dahulu.

3.      Dalam waralaba terdapat tiga bentuk transaksi yaitu transaksi penyewaan lisensi, transaksi penyewaan manajeman, transaksi pembayaran royalty. Ketiga transaksi ini dibolehkan dalam Islam karena sama dengan sistem ijarah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

al-Zuhaily, Wahbah, al-Mu’amalah al-Maaliyah almu’aashirah Buhus wa Fatwa wa Hulul, (Damaskus: Dar al-Fikr, 2002)

Ali, Atabik, a. Zuhdi Muhdlor, Kmaus Kotemporer Arab Indonesia, (Yogyakarta: Multi Karya Grafika, tt)

Arifin, Winarsih dan Farida Soemargono, Kamus Prancis Indonesia, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004)

Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No:09/DSN-MUI/IV/2000 tentang pembiayaan ijarah.

Fox, Steven, Menjual dan Membeli dan Menjual Bisnis Franchise, Judul Asli: Key to Buyying and Salling Franchise Bisnis, Alih Bahasa Susanto, Boedidarmo, (Jakarta: PT. Elek Media Komputindo, 1986)

Hapsah, M. Jafar, Kemitraan Usaha, (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1999)

Haroen, Nasroen,  Fiqih Mu’malah, (Jakarta : Gaya Media Pratama)

Karim, Helmi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, tt)

Rahardjo, Satjipto, Permasalahan Hukum Di Indonesia, (bandung: Alumni, 1978)

Komaruddin, Ensikopledi Manajemen, (Jakarta: Bumi Angkasa, 1994)

Mancuso, Yoseph,  Pedoman Membeli dan Menjual Franchise, Alih Bahasa Suharsono, judul Asli How Buy and Manage, (Jakarta : Delapratasa, 1995)

Queen, Douglas J., Pedoman Membeli dan Menjual Franchise, judul asli: Alih Bahasa Susanto, Boedidarmo (Jakarta: PT Elek Media, Komputindo, 1993)

Setiwan, Deden, Franchise Guide Series-Ritel, (Dian Rakyat, 2007)

Winarno, Sigit dan Sujana Ismaya, Kamus Besar Ekonomi, (Bandung: CV Pustaka Grafika, 2003)

 


[1]Satjipto Rahardjo, Permasalahan Hukum Di Indonesia, (bandung: Alumni, 1978), h. 13

[2]Winarsih Arifin dan Farida Soemargono, Kamus Prancis Indonesia, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004), h. 461

[3]M. Jafar Hapsah, Kemitraan Usaha, (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1999), h. 77

[4]Yoseph Mancuso, Pedoman Membeli dan Menjual Franchise, Alih Bahasa Suharsono, judul Asli How Buy and Manage, (Jakarta : Delapratasa, 1995), h. 14

[5]Steven Fox, Menjual dan Membeli dan Menjual Bisnis Franchise, Judul Asli: Key to Buyying and Salling Franchise Bisnis, Alih Bahasa Susanto, Boedidarmo, (Jakarta: PT. Elek Media Komputindo, 1986), h. 13

[6]Komaruddin, Ensikopledi Manajemen, (Jakarta: Bumi Angkasa, 1994), h. 323

[7]Sigit Winarno dan Sujana Ismaya, Kamus Besar Ekonomi, (Bandung: CV Pustaka Grafika, 2003), h. 214

[8] Deden Setiwan, Franchise Guide Series-Ritel, (Dian Rakyat, 2007), h. 2

[9] Yoseph Mancuso, Op.Cit.  

[10] Wahbah al-zuhaily, al-Mu’amalah al-Maaliyah almu’aashirah Buhus wa Fatwa wa Hulul, (Damaskus: Dar al-Fikr, 2002), h. 589-595

[11]Atabik ali, a. Zuhdi Muhdlor, Kmaus Kotemporer Arab Indonesia, (Yogyakarta: Multi Karya Grafika, tt)h. 7

[12] Nasroen Haroen,  Fiqih Mu’malah, (Jakarta : Gaya Media Pratama), h. 38-39

[13]Ibid, h. 39

[14]Ibid

[15]Ibid. h. 41

[16]Douglas J. Queen, Pedoman Membeli dan Menjual Franchise, judul asli: Alih Bahasa Susanto, Boedidarmo (Jakarta: PT Elek Media, Komputindo, 1993), h.36

[17] Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No:09/DSN-MUI/IV/2000 tentang pembiayaan ijarah.

[18] Helmi Karim, Fiqh Muamalah, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, tt), h.35

Sampingan | Posted on by | Meninggalkan komentar

ASY’ARI DAN ASYARIYAH


MAKALAH SEJARAH PEMIKIRAN DALAM ISLAM

Tentang

ASY’ARI DAN ASYARIYAH

Dipresentasikan dalam mata kuliah Sejarah pemikiran dalam Islam

IAIN

 

Oleh:

ERIADI

NIM. 088111 575

 

Dosen Pembimbing:

Prof. Dr. H. Awis Karni, M.Ag

 

KONSENTRASI SYARI’AHPROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) IMAM BONJOL

PADANG

1432 H/2011 M

 

 

SYI’AH

( Zaidiyyah, Imamiyyah, dan Ghulat)

A.    Pendahuluan

Perbedaan pendapat, pandangan dan pemikiran adalah suatu yang fitrah dan lumrah. Tentunya perbedaan tersebut harus dilandasi oleh azas kebenaran. Al-Qur’an sebagai kalam Allah diyakini oleh umat Islam sebagai sumber kebenaran yang absolut. Ternyata Al-Qur’an tidak datang dalam bentuk yang rinci seperti layaknya peraturan lalu lintas. Hal ini membuka peluang ijtihad yang seluas-luasnya untuk merinci penjelasan tersebut. Bahkan dalam suatu kasus tidak ditemukan nashnya baik didalam Al-Qur’an maupun di dalam Hadits, tentu manusia berupaya untuk mencari solusi yang terbaik melalui ijtihad. Berangkat dari pandangan di atas lumrah kiranya jika di dalam sejarah umat Islam terjadi perdebatan dalam memandang suatu persoalan. Keberagaman pendapat tersebut memupuk subur pertumbuhan dinamika peradaban umat Islam sehingga menuai berbagai mazhab dan aliran, termasuk syi’ah.

Syi’ah pada dasarnya lahir sebagai mazhab politik yang menyuarakan Ali Ibn Abi Thalib sebagai Khalifah. Perkembangan dinamika keberagaman pemikiran syi’ah  melahirkan berbagai sekte yang inti ajarannya berkisar pada persoalan imamah. Dalam perkembangan selanjutnya ternyata dari ajaran imamah inilah mereka berangkat menuju teologi. Walaupun dalam realitasnya ada sekte yang masih berpegang pada prinsip-prinsip Islam dan ada pula sekte yang telah keluar dari prinsip-prinsip Islam, ada yang masih tetap bertahan sampai sekarang, dan ada pula yang telah  hilang ditelan sejarah.

Tulisan ini mencoba mengkaji beberapa masalah tentang syi’ah yaitu: Pengertian syi’ah, asal usul, ajaran pokok, sekte Zaidiyyah, Imamiyyah, dan Ghulat dan ajarannya, serta menyajikan analisa perbandingan ketiga ajaran sekte tersebut. Meskipun amat disadari bahwa topik-topik ini hayalah segelintir pembahasan tentang syi’ah, namun penulis berharap pembahasan ini representatif untuk dijadikan bahan diskusi.

B.     Pengertian

Secara bahasa syi’ah berarti pengikut dan penolong.[1] Ada juga yang mengartikan dengan kelompok, jama’ah, dan golongan.[2] Sehingga dapat dikatakan bahwa setiap golongan atau kelompok yang mempunyai pengikut dan memberikan bantuan kepada imamnya disebut dengan syi’ah. Lebih lanjut, sebagaimana yang dikutip oleh al-Qifariy, Al-Azhariy mengartikan syi’ah dengan kelompok yang mengikuti sebagian yang lain dan tidak semua mereka sepakat dengan apa yang diikutinya.[3] Artinya dalam hal tertentu mereka sependapat, namun dalam hal lain mereka berbeda pendapat, sehingga terdapat sekte-sekte dalam satu golongan. Di dalam Al-Qur’an juga terdapat kata syi’ah yang pada intinya bermakna kelompok atau golongan, contohnya firman Allah dalam surat al-‘An’am ayat 159:

ان الذين فرقوا دينهم وكانوا شيعا……

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang memecah agamanya mereka terpecah menjadi beberapa golongan.”                                                     

Ketika terjadi pertikaian antara Ali dan Mu’awiyah telah dikenal kata syi’ah. Akan tetapi penyebutan syi’ah tidak saja ditujukan pada kelompok Ali namun kelompok mu’awiyyah juga disebut dengan syi’ah,[4] namun dalam agama Islam kata syi’ah identik dengan pengikut Ali. Nama syi’ah digunakan untuk golongan yang mengagungkan Ali ibn Abiy Thalib dan ahli al-bait.[5]

            Penggunaan makna syi’ah secara bahasa sebenarnya tidak tepat, walaupun al-Zabidiy telah menjelaskan bahwa syi’ah identik dengan golongan yang mengagungkan Ali ibn Abiy Thalib dan ahli al-bait, karenaapabila ada orang yang mengatakan bahwa Abu Bakar lebih utama dari pada Ali, maka ia disebut dengan syi’ah (dalam pengertian pengikut Abu Bakar). Akan tetapi realitas sejarah telah merubah makna kamus, sehigga apabila disebut syi’ah, maka pengertiannnya mengacu pada pengikut Ali dan ahli al-bait. Sehingga Al-Syarastaniy juga mendefenisikan syi’ah dengan pengikut Ali saja.[6]

C.    Asal Usul Syi’ah

Muhammad Abu Zahrah mengatakan bahwa syi’ah adalah mazhab politik tertua di dalam Islam yang lahir pada akhir pemerintahan Utsman ibn Affan dan berkembang pesat pada masa pemerintahan Ali Ibn Abi Thalib[7]. Harun Nasution menyebutkan bahwa syi’ah lahir dari peristiwa arbitrase, dimana peristiwa ini memunculkan dua pandangan yang berbeda dari pihak Ali. Pertama golongan yang menolak arbitrase yang disebut dengan Khawarij (keluar dari kelompok Ali). Kedua golongan yang tetap dalam barisan Ali yang disebut dengan syi’ah. Sehingga peristiwa arbitrase ini telah melahirkan tiga kelompok Islam, yaitu Khawarij, syi’ah, dan mu’awiyyah.[8]. Dua pendapat di atas harus dianalisa kembali, sebab mengenai asal-usul kelahiran syi’ah terdapat beragam pendapat, baik pendapat yang berasal dari pengikut syi’ah sendiri maupun pendapat selain syi’ah, berikut uraiannya:

 

 

 

1.      Pendapatan pengikut syi’ah

a.       Pendapat yang mengatakan bahwa syi’ah telah lahir sejak sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai rasul. Abi Hasan mengatakan bahwa kepemimpinan Ali telah tertulis di dalam mushhaf para nabi sebelumnya: “tidak diutus seorang Rasul kecuali Muhammad SAW dan mewasiatkan Ali as sebagai khalifah.[9] Sebagaimana dijelaskan di sebagian ayat al-Qur’an bahwa para Nabi terdahulu diutus untuk menyeru kepada mentauhidkan Allah SWT dan tidak ada satu ayat pun yang menjelaskan tentang wasiat Ali sebagai khalifah. Seperti firman Allah dalam surat al-A’raf ayat 59:

لقدارسلنا نوحاالى قومه فقال يا قوم اعبدوا الله مالكم من اله غيره

 

  Artinya: “Sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah sesunggunya tidak ada Tuhan bagimu selain Ia…”.[10]

b.  Pendapat yang mengatakan bahwa syi’ah telah ada pada zaman Nabi SAW, dengan alasan bahwa pada masa Nabi telah banyak para sahabat  menjadi pengikut Ali (tasyi’). Al-Qimiy mengatakan bahwa: syi’ah Ali telah ada sejak zaman Nabi dan setelahnya, adapun para sahabat yang mengakui keimaman Ali di antaranya adalah: al-Miqda ibn Aswad, Salman al-Farisi, abu zar Jundib ibn Janadah al-Gaffariy, dan Ammar ibn Yasar al-Madzhajiy. Salman al-Farisi adalah Amil kahlifah Umar di Kuffah dan Ammar ibn Yasar di beberapa kota, diartikan sebagai pengikut setia Ali dan menolak kekhalifan sebelumnya (al-Rafidhah), maka tentu kedua sahabat di atas tidak akan menjadi amil pemerintahan Umar ibn Khattab.

c.       Pendapat yang mengatakan bahwa syi’ah telah lahir pada waktu peperangan Jamal. Ibn Nadim berkata: “Ali memerangi Thalhah dan Zubair untuk membunuh keduanya, maka orang yang ikut membantu Ali dalam peperangan itu disebut dengan syi’ah”[11] Disini kata syi’ah dimaknai oleh ibn Nadim dengan pengikut atau penolong Ali, maka pertolongan pertama yang diberikan oleh pengikut Ali adalah pada peperangan Jamal.

 

2.   Pendapat selain Syi’ah

a.   Pendapat yang mengatakan bahwa syi’ah muncul setelah wafatnya Nabi, ketika mencuat isu bahwa Ali-lah yang berhak menjadi khalifah pengganti Nabi. Ahmad Amin mengatakan bahwa benih pertama kelahiran syi’ah adalah ketika wafatnya Nabi bahwa ahli al-bait adalah orang-orang yang utama untuk menggantikan Nabi, dan yang utama dari kalangan ahli al-bait adalah Ali ibn Abi Thalib.[12]

b.   Syi’ah muncul setelah terbunuhnya Utsman dan munculnya Abdullah ibn Saba’[13]. Abdullah ibn Saba’ adalah orang yang pertama kali menanamkan benih syi’ah. Ia adalah orang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam pada akhir pemerintahan Utsman. Dialah yang pertama kali mengisukan bahwa yang berhak menggantikan Nabi adalah Ali, dan ia juga yang mengobarkan api peperangan antara Ali dan Mu’awiyyah (perang Siffin), dan Aisyah (perang Jamal).[14]

 

Di antara pendapat-pendapat di atas, secara umum dapat diurutkan sesuai dengan perjalanan sejarah, yaitu: (1) sebelum diutusnya Nabi, (2) pada masa Nabi, (3) setelah wafatnya Nabi, (3) pada masa Nabi akhir kekhalifahan Ustman. Dan pendapat ketiga dapat pula dibagi menjadi tiga, yaitu: (a) pada peperangan jamal (b) pada peristiwa arbitrase (perang Siffin), dan (c) munculnya Abdullah ibn Saba’.

Jika disimak secara objektif dan konferhensif, sebenarnya kajian tentang asal-usul syi’ah dapat dilihat dari dua aspek, pertama syi’ah sebagai suatu pandangan (syi’isme) dan kedua syi’ah sebagai suatu mazhab atau aliran (dalam arti telah terbentuknya mazhab syi’ah). Dari perjalanan sejarah, pandangan yang mengarah pada pengagungan Ali sudah ada sejak zaman Rasulullah – namun pandangan tentang adanya isyarat syi’ah sebelum diutusnya Rasulullah amat sulit diterima, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Hal ini sesuai dengan alasan[15], bahwa:

1.      Ali Ibn Thalib adalah orang yang memberikan dukungannya kepada Nabi tatkala Nabi mendapat cemoohan.

2.      Ali adalah sosok figur yang telah berhasil menghidupkan Islam dengan pengorbanan-pengorbanan yang telah dilakukannya. Seperti, ia pernah tidur di atas ranjang Rasulullah SAW di malam peristiwa lailatul mabit ketika Rasulullah SAW hendak berhijrah ke Madinah, dan kepahlawanannya di medan perang Badar, Uhud, Khandaq dan Khaibar.

3.      Ali pernah diangkat oleh Nabi sebagai wakilnya di Madinah ketika Nabi melakukan ekspansi ke Tabuk. Dan lain-lain.

 

Semua peristiwa di atas terjadi pada masa Nabi sehingga ia menjadi sebagian alasan bagi segelintir kalangan untuk mengutamakan Ali. Selain itu Ali adalah keturunan dekat Nabi. Sehingga keistimewaan Ali menjadi legitimasi atas munculnya syi’isme. Dan tidak salah kiranya pandangan ini berkembang dan menuntut realisasi setelah Nabi wafat. Sesaat setelah Nabi wafat terjadi peristiwa saqifah bani sa’idah. Peristiwa ini menjadi event penting yang perlu digarisbawahi karena pengangkatan khalifah Abu bakar oleh kaum anshar dan Muhajirin, dianggap sebagai perampasan hak Ali. Ini menunjukkan bahwa setelah Nabi wafat baru lahir syi’ah sebagai suatu pandangan.

Kelahiran syi’ah sebagai suatu mazhab tidak terlepas dari pandangan di atas, oleh karena itu kita bisa mengklaim satu pendapat yang benar. Pendapat umum mengatakan bahwa syi’ah sebagai suatu mazhab lahir pada masa akhir pemerintahan Utsman ibn Affan, hal ini pun masih diperselisihkan. Jika ibn Nadim mengatakan bahwa syi’ah sebagai suatu mazhab lahir pada waktu peperangan Jamal, juga dapat dibenarkan, dimana ibn Nadim memahami syi’ah sebagai pengikut atau penolong Ali, maka pertolongan pertama yang diberikan oleh pengikut Ali adalah pada peperangan Jamal. Namun tidak semua pengikut dan penolong Ali pada peperangan Jamal setuju dengan peristiwa tahkim. Pengikut dan penolong Ali yang setia tentu yang sependapat dengannya. Jika demikian, maka peristiwa tahkimlah yang memutuskan hitam dan putihnya kelahiran syi’ah sebagai suatu mazhab. Sedangkan kemunculan Abdullah ibn Saba’ adalah pewarna bagi perkembangan syi’ah serta telah melahirkan corak teologi syi’ah yang ekstrim.

 

D.    Ajaran Syi’ah

Pengikut syi’ah mengatakan bahwa persoalan Imamah dan khilafah mestilah ditetapkan berdasarkan pencalonan dan penunjukan baik terbuka maupun tertutup. Mereka meyakini bahwa persoalan Imamah haruslah berasal dari keluarga Ali, jika Imamah itu pernah berada dari selain keluarga Ali hal itu merupakan kekeliruan yang dilakukan oleh pihak lain di pihak imam yang benar. Imamah bukanlah masalah sipil yang dapat diselesaikan melalui pemilihan yang dilakukan oleh publik, akan tetapi ia adalah masalah yang pokok; ia merupakan rukun agama. Oleh karenanya tidak boleh bagi Rasul menyepelekannya apalagi menyerahkan pada publik, ia bahkan wajib bagi Rasul menentukannya.[16]

Selain itu syi’ah berkeyakinan bahwa para Nabi dan imam ma’sum terpelihara dari dosa besar dan dosa kecil, demikian juga dengan imam-imam sesudahnya. Ali ditunjuk oleh Nabi sebagai penggantinya melalui wasiat, oleh karena itu syi’ah meyakini bahwa imam dipilih melalui wasiat imam sebelumnya.[17] Secara tegas dapat dikatakan bahwa imam adalah perantaraan Tuhan dan manusia. Ia berfungsi sebagai pemimpin agama (spiritual) dan nagara (politik).[18] Oleh karena itu, bagi syi’ah, imam diletakkan sebagai salah satu rukun iman yang wajib di ikuti dan ditaati.

 

 

 

E.     Sekte-sekte Syi’ah dan Ajarannya

Menurut al-Syahrastaniy, syi’ah terdiri dari lima sekte, yaitu: Kaisaniyyah, Zaidiyyah, Imamiyyah, Ghulat, dan Isma’iliyyah.[19] Dalam sub-bab ini, sesuai dengan silabus, penulis hanya akan membahas tiga sekte yaitu: Zaidiyyah, Imamiyyah, Ghulat.

1.      Zaidiyyah

Golongan Zaidiyyah merupakan pengikut Zaid Ibn Ali ibn al-Husain ibn Ali ibn Abi Thalib. Mereka berpegang bahwa Imamah menjadi milik keturunan Fathimah dan tidak boleh dipegang oleh orang lain. Tetapi mereka mengakui semua golongan Fathimah yang terpelajar shaleh, berani dan dermawan sebagai imam yang wajib ditaati, apakah ia dari keturunan Hasan ataupun Husain. Oleh karena itu golongan Zaidiyyah juga mengakui keimaman Imam Muhammad dan Imam Ibrahim anak dari Abdullah ibn Hasan yang memberontak pada pemerintahan Mansur. Mereka juga menolak kemunkinan dua imam pada dua daerah yang berbeda, kecuali kedua imam tersebut memiliki syarat di atas.[20]

Zaid memandang bahwa ada kemungkinan seseorang yang kurang utama (al-mafdhul) untuk menjadi Imam, meskipun ada orang yang lebih utama (afdhal) darinya. Zaid berpendapat bahwa Ali Ibn Abiy Thalib adalah orang yang lebih utama dari para sahabat, namun khalifah pertama dipercayakan kepada Abu Bakar, hal ini karena pertimbangan mashlahah, dan kaedah agama yang mereka perpegangi, yaitu untuk membendung timbulnya fitnah, serta untuk menenangkan hati rakyat. Peperangan diikuti Ali pada zaman Nabi, masih terniang di pikiran orang Quraisy dan orang kafir lainnya, maka dikhawatirkan akan adanya penuntutan balas kepada Ali, sehingga walaupun Ali lebih utama dari yang lain sulit untuk diterima secara politik, maka amat sangat bijaksana kiranya bila jabatan Imam diberikan kepada Abu Bakar sebagai orang yang dikenal dan diterima masyarakat baik hati, paling awal masuk Islam serta dekat dengan Nabi. Ketika Abu Bakar menyerahkan jabatan Imam kepada Umar, sementara Ali dalam kondisi sakit, prosesi transisi tersebut dianggap suatu hal yang bijaksana. Singkat kata, syi’ah Zaidiyyah mengakui khalifah Abu Bakar dan Utsman. Ketika pendapat Zaid di atas didengar oleh pengikut syi’ah di Kuffah mereka menolak Zaid sepanjang hayat. Dan karena alasan inilah ia disebut dengan penganut Rafidhah.[21]

Aliran Zaidiyyah berkeyakinan bahwa seorang imam tidak ditunjuk langsung oleh Nabi, akan tetapi ditentukan oleh Nabi sifat-sifatnya saja, diantaranya berasal dari Bani Hasyim, wara’, (saleh, menjauhkan diri dari dosa), bertakwa, membaur dengan rakyat untuk mengajak mereka sehingga rakyat mengakui ia sebagai imam. Oleh karena alasan inilah bahwa Ali lah yang berhak menjadi imam, sebab Ali memenuhi sifat-sifat tersebut. Dan adapun yang berhak menjadi imam setelah Ali diisyaratkan pula harus berasal dari keturunan Fathimah.[22] Selain itu, bagi Syi’ah Zaidiyyah, Imamah tidak boleh bersifat anak-anak dan tidak pula bersifat ghaib. Ia harus memiliki kemampuan dalam memimpin perang suci, mempertahankan masyarakat, dan seorang mujtahid.[23] Ketaatan kepada imam hanyalah dalam kebaikan. Imam yang baik, taat, dan adil wajib ditaati.[24]

Zaid Ibn Ali pernah belajar teologi kepada Washil ibn Atha’, seorang pemuka mu’tazilah, konon pengikutnya Zaid menjadi orang mu’tazilah. Hubungan Zaid dan Washil membuat kemarahan pengikutnya, karena Washil ragu-ragu dalam menentukan posisi Ali dalam perang Jamal. Washil tidak sepenuhnya yakin bahwa Ali berada dalam pihak yang benar.[25] Oleh karena itu pemikiran Zaid banyak dipengaruhi oleh gurunya. Contoh keyakinannya adalah bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat, Al-Qur’an adalah makhluk, dan tidak menerima takdir begitu saja.[26] Orang yang melakukan dosa besar tidak kekal di dalam neraka, selama mereka belum bertaubat dengan taubat sebenar-benarnya.[27]

Dalam perkembangan selanjutnya syi’ah Zaidiyyah terpecah menjadi empat kelompok, yaitu: Jarudiyyah pengikut Abu al-Jarud Ziyad ibn Abu Ziyad, Sulaimaniyyah pengikut Sulaiman ibn Jarir, Shalihiyyah pengikut Hasan ibn Shalih ibn Hayy, dan Bitriyyah pengikut Katsir al-Hawa al-Abtar.[28]

Muhammad Abu Zahrah berkesimpulan bahwa Zaidiyyah dalam perkembangannya terbagi menjadi dua, pertama para penganut Zaidiyyah generasi pertama, dipandang tidak ekstrim karena mengakui keimaman Abu Bakar dan Umar, kedua pengikut Zaidiyyah generasi belakangan, dipandang ekstrim karena tidak mengakui keimaman Abu Bakar dan Umar.[29]

2.      Imamiyyah

Disebut Imamiyyah karena yang menjadi paham dasar aqidah mereka adalah imamah. Sekte ini juga dikenal dengan syi’ah istna al-asyariah (syi’ah 12), karena mereka meyakini imam yang dua belas,[30] sebagaimana terdapat dalam silsilah di atas. Selain itu, ia juga dinamakan dengan Ja’fariyyah yang dinisbatkan pada ja’far al-Shadiq (imam ke enam).[31]

Ada beberapa ajaran pokok syi’ah imamiyyah, di antaranya:

a.      Imamah

      Golongan ini percaya bahwa setelah Nabi Imamah menjadi hak Ali atas dasar nash yang jelas dan penunjukan nyata. Mereka mengatakan bahwa tidak ada yang lebih penting dari pada penunjukan Imam dalam agama dan dalam Islam. Rasul diutus untuk meghilangkan perselisihan dan mencipkatan keharmonisan. Nabi tidak boleh memecah persatuan umat dan meninggalkan mereka dalam perselisihan pendapat. Oleh karena itu, Nabi harus menunjuk penggantinya dan penggantinya itu adalah Ali Ibn Abi Thalib.[32]

Mereka berdalil, dengan sabda Nabi yang berbunyi:

أقضاكم علي

(hakim yang paling baik di antara kamu adalah Ali). Berdasarkan hadits di atas, mereka mengatakan bahwa Imamah adalah hakim utama dalam setiap kasus, dan hakim menjadi penengah bagi orang yang berselisih. Maka ini merupakan implementasi dari firman Allah:

وأطيعو الله واطيعو الرسول و اولى الامر منكم ….

Mereka menjelaskan bahwa ulil amri dalam ayat di atas adalah orang yang dipercayakan kepadanya pengadilan dan pemerintahan.[33]

Keberadaan imam berfungsi sebagai penjaga syari’at, menerangkan dan memeliharanya dari penyimpangan dan kesesatan. Seorang imam adalah hujjah Allah yang berlaku hingga kiamat. Ali mengatakan bahwa bumi ini tidak pernah kosong dari hujjah Allah baik yang tampak ataupun yang tersembunyi.[34]

Imam bagi syi’ah Imamiyyah merupakan suatu hal yang prinsip dan pokok. Bagi mereka imamah bagaikan kalimat syahadat yang apabila diingkari sama saja mengingkari kalimat syahadat.[35] Sehingga dapat dikatakan bahwa keyakinan terhadap imam sederajat dengan Rasul. Tidak heran bila mereka menganggap bahwa imam adalah ma’sum, dijaga oleh Allah baik dari dosa besar maupun dosa kecil.

b.      Ishmah

            Imam menurut syi’ah adalah ma’sum (suci) terpelihara dari dosa besar dan dosa kecil. Kema’suman seorang imam bagaikan seorang Nabi, ia terpelihara dari segala bentuk kesalahan dari kanak-kanak sampai akhir hayatnya. Jika tidak demikian maka sebagai pemimpin agama, tentu ia akan melakukan kesalahan dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya sebagai imam.

Para imam berhak untuk melakukan tahksish terhadap nash-nash yang bersifat umum dan melakukan taqyid terhadap nash-nash yang bersifat mutlaq.[36] Hal ini merupakan implikasi dari kema’suman imam, yang diakui sederajat dengan Nabi, jadi imam mempunyai otoritas untuk membuat syari’at seperti layaknya seorang Nabi.

Kema’suman seorang imam menurut syi’ah bersifat lahir dan bathin, sebelum dan sesudah ia menjadi Imam. Kema’suman seorang imam hanya dapat diketahui dari keadaannya sebelum menjadi imam, yaitu dari perkataannya yang dapat dijadikan hujjah. Atas dasar ini ia mesti ma’sum sebelum menjadi imam. Jika demikian maka ia akan dijauhi.[37]

c.       Mahdiyyah

Mahdi menurut kacamata syi’ah adalah imam yang ke-12, yaitu Muhammad ibn Hasan al-Azkariy yang disebut dengan Muhammad Mushthafa dengan nama al-Mahdiy al-Munthazar yang lahir pada tahun 255 H, dan wafat 260 H, mereka berkeyakinan bahwa dia tidak meninggal dan sewaktu-waktu akan kembali ke bumi guna menegakkan keadilan, menghukum orang-orang yang zhalim terhadap ahli al-bait.[38]

Keyakinan akan adanya mahdi didasari oleh ajarannya yang disebut dengan raj’ah. raj’ah berarti kembali, mereka berkeyakinan bahwa sebagian manusia yang telah meninggal dapat dihidupkan kembali oleh Allah, karena suatu hikmah. Kemudian di hidupkan kembali bersama manusia dihari kiamat.

d.      al-Taqiyyah

                   Di antara prinsip ajaran syi’ah Imamiyyah adalah taqiyyah. Taqiyah artinya perlindungan, orang syi’ah demi untuk melindungi dirinya boleh berbohong.[39]Dalam kata lain taqiyyah adalah seseorang menunjukkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dirahasiakannya (di dalam hatinya). Bagi mereka taqiyyah adalah rukun agama, bahkan tiang agama dan dengan tiang itu agama dapat berdiri.[40]

لا دين لمن لا تقية له

   “Tidak beragama seseorang tanpa taqiyyah”

Muhammad Kamil al-Hasyimiy mengatakan taqiyyah berarti bohong. Bohong dan taqiyyah adalah dua hal yang tidak berbeda. Karena syi’ah lahir berdasarkan kebohongan demi kebohongan. Kaum syi’ah telah menciptakan kebohongan terhadap kebenaran dan kesucian. Karena syi’ah memberikan kedustaan terhadap sesuatu yang mereka simpan.[41]

 

3.      Ghulat

Ghulat, dalam bahasa Indonesia berarti berlebih-lebihan atau ekstim. Sehingga syi’ah Ghulat sering juga disebut dengan syi’ah ekstrimis. Atau dalam bahasa al-Syahrastaniy adalah orang-orang yang berlebih-lebihan di dalam menilai imam-imam mereka sehingga penilaian tersebut keluar dari batas-batas sifat penciptaan, dan menganggap imam-imam mereka mempunyai sifat ke Tuhanan. Kadangkala mereka menyamakan seorang imam dengan Tuhan, dan menyamakan Tuhan dengan manusia (tasybih), ajaran mereka seperti layaknya ajaran Yahudi dan Nasrani, orang yahudi menyamakan Tuhan dengan manusia, sedangkan orang Nashrani menyamakan manusia dengan Tuhan.[42]

Keekstriman golongan ini didasarkan pada empat doktrin yang mereka perpegangi, yaitu: al-tasybih (antropomorfisme), al-bada’ (perubahan pikiranTuhan), al-raj’ah, al-tanasuhk (reinkarnasi).[43] Paham tasybih menganggap Tuhan serupa dengan mahkluk, dalam arti mempunyai anggota tubuh. Paham bada’ adalah keyakinan yang mengatakan bahwa Tuhan dapat merubah apa yang dikehendaki-Nya sesuai dengan ilmu-Nya. Paham ini menimbulkan kesan adanya keterbatasan ilmu Tuhan, padahal Tuhan alim dan khabir. Paham raj’ah ialah hidupnya sebagian manusia yang sudah meninggal. Sedangkan paham tanasuhk  ialah menjelmanya roh Nabi atau para imam ke dalam orang-orang tertentu, seperti yang dikatakan oleh Abdullah ibn Amr Ibn Harb bahwa roh Muhammad ibn Hanifah menjelma dalam drinya.[44]

Kelompok syi’ah ekstrimis, menurut al-Syahrastaniy terbagi menjadi 12 kelompok, yaitu: Saba’iyyah, Kalimiyyah, al-Ba’iyyah, Mughiriyyah, al-Mansuriyyah, Khaththabiyyah, Kayyaliah, Hisyamiyyah, Nu’maniyyah, Yunisiyyah, Nusiriyyah, dan Ishaqiyyah. Untuk melihat gambaran keekstrimannya berikut akan penulis paparkan beberapa kelompok disertai dengan ciri khas ajarannya yang ekstrim:

a.       Saba’iyyah

Kelompok ini merupakan pengikut Abdullah ibn Saba’, seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam pada masa khalifah Utsman. Ia berkata kepada Ali: “Engkau adalah engkau” yakni “Engkau adalah Tuhan. Dia adalah orang pertama yang mengatakan bahwa imam yang pertama yang berhak ialah Ali. Dan dari ibn Saba’ inilah golongan ekstrim muncul. Menurutnya Ali masih hidup, dan di dalam diri Ali terdapat unsur ke Tuhanan.[45]

b.      Al-kamiliyyah

               Kelompok ini merupakan pengikut Abu Kamil, ia mengatakan bahwa semua sahabat kafir karena tidak memberikan sumpah setia kepada Ali. Imamah merupakan cahaya yang berpindah dari seseorang kepada orang lain. Cahaya yang satu menjadi nubuwwah dan pada diri yang lain menjadi imamah. Selain itu mereka percaya bahwa Tuhan ada di setiap tempat, berbicara melalui setiap lidah, dan terdapat dalam setiap individu, inilah yang dimaksud dengan hulul.[46]

c.       ‘Alba’iyyah        

      Kelompok ini adalah pengikut al-‘Alba’ ibn Zira’ al-Dausi, atau oleh sebagian orang disebut juga dengan al-Asdi. Ia mengatakan bahwa Ali lah yang mengutus Muhammad, dan Ali adalah Tuhan. Muhammad telah salah, karena seharusnya Muhammad menyeru kepada Ali, bukan pada dirinya sendiri.[47]

 

 

d.      Al-Mughiriyyah

Kelompok ini merupakan pengikut Mughirah ibn Said al-‘Ijli. Mereka percaya akan adanya tasybih, Allah memiliki bentuk dan badan dan memiliki bagian-bagian sebagaimana huruf hijaiyyah. Bentuk Allah seperti bentuk manusia yang terbuat dari cahaya dan di atas kepalanya terdapat mahkota cahaya. Dan Allah juga memiliki hati yang memancarkan hikmah.[48]

e.       Al-Mansuriyyah

Golongan ini adalah pengikut Abu Mansur al-Ijliy. Salah satu ajaran ekstrim yang dipertahankan oleh Abu Mansur ialah bahwa Ali adalah sesuatu yang jatuh dari surga. Dan sesuatu yang jatuh dari surga adalah Allah. Ia juga mempertahankan bahwa rasul tidak akan terputus selamanya. Selain itu ia juga mengatakan bahwa surga adalah seorang manusia, dimana kita diperintahkan untuk bergabung bersamanya, ia adalah imam zaman. Neraka adalah seorang manusia dimana kita diperintahkan untuk meninggalkannya, ia adalah musuh imam.[49]

 

E.           Analisa dan Perbandingan

Persoalan pokok dalam kajian syi’ah adalah persoalan Imamah, sehingga dari ajaran tersebut muncullah berbagai ajaran-ajaran yang mengarah pada teologi. Analisa perbandingan yang dapat disimpulkan dari ketiga sekte tersebut tentang imamah adalah: Bagi aliran Zaidiyyah Imam tidaklah merupakan wasiat dari Nabi kepada seseorang seperti pandangan aliran Imamiyyah, akan tetapi Nabi menentukan sifat-sifatnya. Selain itu bagi Zaidiyyah, orang yang tidak utama bisa saja menjadi imam, sehingga pandangan ini memunculkan adanya pengakuan terhadap keimaman Abu Bakar, Umar, dan Usman.

Bagi aliran Imamiyyah, imam merupakan wasiat dari Nabi, karena jika tidak maka rakyat akan terpecah menurut kehendak dan pendapatnya masing-masing, oleh karena itu Nabi wajib menunjuk penggantinya melalui wasiat. Selain itu mereka berkeyakinan imam mempunyai posisi yang amat tinggi, bahkan sederajat dengan nabi. Dari keyakinan ini memunculkan pandangan bahwa imam adalah ma’sum seperti layaknya Nabi, baik sebelum atau sesudah menjadi imam. Berangkat dari sikap fanatis terhadap imam melahirkan ajaran raj’ah. Dan dari raj’ah ini pulalah mereka meyakini adanya imam mahdi (ajaran mahdiyyah) yang akan datang di akhir zaman. Penulis berasumsi bahwa, adanya ajaran taqiyiah dalam aliran syi’ah imamiyyah ini disebabkan oleh tidak mampunya mereka memberikan alasan yang logis terhadap pendapat-pendapat mereka, sehingga mereka menyembunyikan kebenaran. Seperti halnya wasiat, sebenarnya mereka tahu bahwa wasiat Nabi kepada Ali tidak ada, namun demi untuk mempertahankan hal tersebut mereka harus berdusta peristiwa ghadir khum.

Syi’ah Ghulat juga berangkat dari persoalan imamah. Jika syi’ah imamiyyah menganggap bahwa imam sederajat dengan Nabi, maka bagi aliran Ghulat imam sederajat dengan Tuhan, atau imam adalah Tuhan, Tuhan adalah imam. Untuk mempertahankan doktrin ini maka muncullah ajaran tasybih, yakni menyamakan Tuhan dengan manusia, bada’  Tuhan dapat merubah apa yang dikehendaki-Nya, raj’ah, hidupnya sebagian manusia yang sudah mati, dan tanasuhk, menjelmanya roh nabi atau para imam kedalam orang-orang tertentu.

Dapat dikatakan bahwa aliran syi’ah Zaidiyyah adalah aliran yang moderat, karena selain alasannya dipandang rasional, ia juga terkontaminasi oleh mu’tazilah. Syi’ah imamiyyah adalah aliran yang jumud di dalam berpendapat, sementara syi’ah ghulat adalah aliran yang berlebih-lebihan (ektrimis), ini sesuai dengan namanya, atau dipandang telah keluar dari prinsip-prinsip ajaran Islam.

 

F.     Kesimpulan

            Dari uraian yang telah digambarkan dan dipaparkan sebelumnya, ada beberapa kesimpulan yang dapat ditarik:

1.         Syi’ah secara bahasa berarti pengikut dan penolong, sedangkan secara istilah syi’ah berarti pengikut setia Ali Ibn Abi Thalib secara khusus.

2.         Menurut pendapat umum dan terkuat bahwa syi’ah lahir pada akhir masa kekuasaan Usman ibn Affan, tepatnya pada waktu terjadinya peristiwa tahkim. Pendapat yang mengatakan bahwa syi’ah telah muncul sebelum Nabi diutus adalah pendapat bathil. Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa syi’ah dalam arti pandangan (Syi’isme). Dan pendapat yang mengatakan bahwa syi’ah muncul pada saat perang Jamal, adalah syi’ah dalam arti penolong Ali, karena pertolongan yang pertama yang diberikan oleh pengikut Ali pada waktu perang Jamal.

3.         Persoalan pokok dalam kajian syi’ah adalah persoalan Imamah, sehingga dari ajaran tersebut muncullah berbagai ajaran-ajaran yang mengarah pada teologi sebagai argumen dari masing-masing aliran atau sekte. Sekte Zaidiyyah dianggap sebagai sekte yang moderat, sekte imamiyyah adalah aliran yang jumud (ortodok), sementara syi’ah ghulat adalah aliran yang berlebih-lebihan (ektrimis).


DAFTAR PUSTAKA

Abduh, Umar dan Kartos Away (Ed.), Mengapa kita Menolak Syari’ah, Jakarta: LIPPI, 1998

Aceh, Abu Bakar, Perbandingan Mazhab Syi’ah Rasionalisme dalam Islam. Semarang: Ramadhniy, 1980

Amin, Ahmad, Fajru al-Islam. Mesir: Maktabah Al-Nahdhah. 1965

Effendi, Muchtar, Ensiklopedi Agama dan Filsafat. Palembang: Widyadara, 2001

Fachruddin , Fuad Moch., syi’ah Suatu Pengamatan Kritikal, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1992

al-Hayimi, Muhammad Kamil, Hakikat Aqidah Syi’ah, Penterjemah: H. M. Rasjidi, Judul Asli: Aqaid Syi’ah fi al-Mizan, Jakarta: PT Bulan Bintang, 1989

Jafri, S.H.M, Awal dan Sejarah Perkembangan Islam Syi’ah: dari Saqifah sampai Imamah, Penterjemah: Meth Keirana, judul asli: Origin and Early Development of Shi’a Islam, Bandung: Pustaka Hidayat, 1995

Jaya, Yahya, teologi Agama Islam Klasik. Padang: Angkasa Raya, 2000

Ma’luf, Louis, Munjid fi Lughah al-Arabiyyah al-Mu’ashirah, Bairut: Dar al-Masyruq, 2000

Munawir, Ahmad Worson, kamus Al-Munawir Arab Indonesia Terlengkap,  Surabaya: Pustaka Proggresif, 1997

Nasution, Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: UI-Press 2001

al-Nimr, Abdul Mun’in, Syi’ah Imam Mahdi dan Duruz sejarah dan fakta. Jakarta: Qasthi Press, 2003

al-Qifariy, Nashir ibn Abdillah ibn ‘Ali, Masalah al-Taqrib baina ahli al-Sunnah wa al-syi’ah Riayadh, Dar Thibah, 1418

————Ushul Mazhab Al-Syi’ah Al-Imamiyah Itsna Asyarairah ‘Ardh wa Naqd Riayadh, Dar Thibah, 1994

Ousthaniah, Wilayah al-Faqih dalam Menjalankan Pemerintahan dalam Islam Menurut Syi’ah Imamiyyah Itsna Asy’ariyyah. tesis, 2005

Al-Syahrastaniy, Abi Al-fath Muhammad Abd al-Karim ibn Abi Bakar Ahmad, al-Milal wa al-Nihal, Bairut: Dar al-Fikr, 1997

Abu Zahrah, Muhammad, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam penterjemah: Abdurrahman Dahlan dan Ahmad Qarib, judul  asli : Tarikh Al-Mazdahib al-Islamiyyah, Jakarta: Logos, 1996


[1]Ahmad Worson Munawir (selanjutnya disebut dengan Munawir), kamus Al-Munawir Arab Indonesia Terlengkap, ( Surabaya: Pustaka Proggresif, 1997) Cet. Ke-16, h. 809

[2]Louis Ma’luf, Munjid fi Lughah al-Arabiyyah al-Mu’ashirah, (Bairut: Dar al-Masyruq, 2000), h.709

[3]Nashir ibn Abdillah ibn ‘Ali al-Qifariy, Masalah al-Taqrib baina ahli al-Sunnah wa al-syi’ah (selanjutnya disebut dengan al-Qifariy, al-Taqrib). (Riayadh, Dar Thibah, 1418 H), h.119

[4]Umar Abduh dan Kartos Away (Ed.), Mengapa kita Menolak Syari’ah, (Jakarta: LIPPI, 1998), h. 3

[5]Nashir ibn Abdillah ibn ‘Ali al-Qifariy, Ushul Mazhab Al-Syi’ah Al-Imamiyah Itsna Asyarairah ‘Ardh wa Naqd (selanjutnya disebut dengan al-Qifariy, ushul Mazhab), (Riayadh, Dar Thibah, 1994), jilid 1, h.30

[6]Abi Al-fath Muhammad Abd al-Karim ibn Abi Bakar Ahmad Al-Syahrastaniy (selanjutnya disebut dengan Al-Syahrastaniy), al-Milal wa al-Nihal, (Bairut: Dar al-Fikr, 1997), h. 118

[7]Muhammad Abu Zahrah, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam (penterjemah: Abdurrahman Dahlan dan Ahmad Qarib, judul  asli : Tarikh Al-Mazdahib al-Islamiyyah), (Jakarta: Logos, 1996), h. 36

[8] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. (Jakarta: UI-Press 2001), jilid I, h. 89-90

[9] al-Qifariy, Ushul Mazhab, op.cit, h. 57

[10]Al-A’raf ayat 65 menjelaskan tentang Nabi Nuh As. Al-A’raf ayat 73 menjelaskan tentang Nabi Shaleh As. Al-A’raf ayat 85 menjelaskan tentang Nabi Syu’aib As.

[11] Ibid. h. 67

[12] Ahmad Amin, Fajru al-Islam. (Mesir: Maktabah Al-Nahdhah. 1965). h. 266

[13] al-Qifariy, Ushul Mazhab, op.cit., h.71. 71. Lihat: Muhammad Kami al-Hayimi, Hakikat Aqidah Syi’ah, (Penterjemah: H. M. Rasjidi, Judul Asli: Aqaid Syi’ah fi al-Mizan), (Jakarta: PT Bulan Bintang, 1989). h. 13

[14] Umar Abduh dan Kartos Away, op.cit., h.4-5

[15] S.H.M. Jafri, Awal dan Sejarah Perkembangan Islam Syi’ah: dari Saqifah sampai Imamah, (Penterjemah: Meth Keirana, judul asli: Origin and Early Development of Shi’a Islam), (Bandung: Pustaka Hidayat, 1995), h. 48-49. Lihat Fuad Moch. Fachruddin, syi’ah Suatu Pengamatan Kritikal, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1992), 4-5

[16] al-Syarastaniy, op.cit., h.118. lihat juga: Ahmad Amin, h. 267

[17] Ibid

[18] Yahya Jaya, teologi Agama Islam Klasik. (Padang: Angkasa Raya, 2000), h. 89

[19] al-Syahrastaniy, op.cit.

[20] Ibid. h. 164

[21] Ibid. h. 165

[22]Muhammad Abu Zahrah, op.cit,. h.47

[23] Yahya Jaya, op.cit., h. 94

[24] Ibid. h. 95

[25] Al-Syahrastaniy, loc.cit.

[26] Yahya Jaya, loc.cit.

[27] Muhammad Abu Zahrah, loc,cit.

[28]Al-Syahrastaniy, op.cit. h. 157-161

[29] Muhammad Abu Zahrah, op.cit., h. 50

[30] Yahya Jaya, op.cit., h. 91

[31] Abu Bakar Aceh, Perbandingan Mazhab Syi’ah Rasionalisme dalam Islam. (Semarang: Ramadhaniy, 1980), h.99

[32] Al-Syahrastaniy, loc.cit.

[33] Ibid., h. 132

[34] Muhammad Abu Zahrah, op. cit., h. 68

[35] Muhammad Kamil al-Hasyimiy, op. cit., h. 18

[36] Muhammad Abu Zahrah, op.cit., h. 54

[37] Ibid.,

[38] Abdul Mun’in al-Nimr, Syi’ah Imam Mahdi dan Duruz sejarah dan fakta. (Jakarta: Qasthi Press, 2003), h. 71-72

[39] Muchtar Effendi, Ensiklopedi Agama dan Filsafat. (Palembang: Widyadara, 2001), jilid IV, h. 4

[40] Muhammad Kamil al-Hasyimiy, op.cit., h. 135

[41] Ibid.

[42] Al-Syahrastaniy, op.cit., h. 139

[43]Ibid.

[44] Yahya Jaya, op.cit., h. 98

[45] Al-Syahrastaniy, loc .cit., h. 140

[46]Ibid.

[47] Ibid. h. 143-144

[48]Ibid.

[49] Ibid.  h. 143-144

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

CARA MENGUKUR TEKANAN DARAH


Ada dua jenis pengukuran tekanan darah (blood pressure), yaitu sistolik dan diastolik. Yang dimaksud dengan tekanan darah disini adalah tenaga yang dikeluarkan oleh darah untuk dapat mengalir melalui pembuluh darah. Ukuran tekanan darah dinyatakan dalam bentuk mm Hg. Hg merupakan singkatan dari hydragyrum, yaitu merupakan air raksa yang ada didalam tabung tensi meter. Jadi jika tekanan darah seseorang adalah sebesar 140 mm Hg, maka maksudnya adalah tenaga yang dikeluarkan oleh darah untuk mendorong air raksa didalam tabung tensimeter setinggi 140 mm.

Cara menggunakan tensi meter adalah sebagai berikut. Orang yang akan diukur tekanan darahnya berbaring, selanjutnya manset tensimeter diikatkan pada lengan atas, sekitar 2 jari diatas lipatan siku. Kemudian stetoskop diletakkan pada arteri brakhialis yang berada pada lipatan siku. Sambil mendengarkan denyut nadi, tekanan didalam tensimeter dinaikkan dengan cara memompa sampai denyut nadi tidak terdengar lagi, kemudian tekanan didalam tensimeter pelan-pelan diturunkan. Pada saat denyut nadi mulai terdengar lagi, baca tekanan yang terdapat pada batas atau permukaan air raksa yang terdapat pada tensi meter. Maka tekanan inilah yang disebut tekanan sistolik. Pada proses pengukuran, tekanan didalam tensimeter tetap diturunkan. Suara denyut nadi akan terdengar lebih jelas sampai suatu saat suara denyutan terdengar melemah dan akhirnya menghilang. Saat denyut terdengar melemah, kembali kita lihat tekanan dalam tensimeter, dan tekanan inilah yang kemudian disebut diastolik.

Dipublikasi di Uncategorized | 9 Komentar

DARAH RENDAH VS KURANG DARAH


Tekanan darah rendah berarti hantaran nutrisi dan oksigen ke sel-sel tubuh kurang. Yang paling peka akan keadaan ini adalah sel saraf, otak dan otot, makanya jadi cepat capek, pusing dan kurang gesit secara fisik dan psikis. Sebaiknya segera bawa mertua ananda untuk melakukan “check-up” ke dokter umum terdekat, supaya benar jelas penyakit apa yang dikeluhkan mertua itu. Karena bisa saja mertua terdiagnosa cuma menderita anemia (kekurangan butir sel darah merah), belum sepenuhnya hipotensi. Anemia merupakan salah satu diagnosa banding dengan arah hipotensi, tapi terapi penyembuhan keduanya tidak sama.

Darah rendah adalah jika tekanan darah seseorang di bawah 100. Hal ini berhubungan dengan pompa jantung. Kondisi ini berbeda dengan kurang darah – yang menyatakan kurangnya kekentalan hemoglobin atau sel darah merah. Biasanya, nih, kurang darah ditandai gejala pucat atau lemas. Tapi nggak berarti setiap lemas atau pucat kita lantas buru-buru menenggak suplemen penambah darah. Kondisi kita harus dibuktikan dulu, dong, secara medis, yaitu lewat cek darah. Jika terbukti kita kurang darah, baru, deh, boleh minum suplemen penambah darah. Kurang darah bisa kita alami kalau haid kita jumlahnya banyak banget, bisa juga karena penyakit lain yang menyebabkan darah keluar dari tubuh di luar kondisi normal, misalnya cacingan atau ambeien. Jadi untuk mengobati kurang darah, harus dicari dulu penyebabnya, nggak bisa asal minum suplemen. Nah, untuk menjaga darah tetap stabil, lagi-lagi, deh, kita harus mengonsumsi makanan sehat dan rutin berolahraga.Yuk, mulai hari ini!

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

TENTANG EPILEPSI


Wah sudah lama juga saya tidak mengisi ilmu di web ini. sekarang tiba saatnya saya membicarakan epilepsi. berhubung ada teman saya juga yang menderita penyakit tersebut. yuk kita baca sedikit ilmu,,,tentang epilepsi…

Banyak orang tua yang menjadi frustasi begitu mengetahi anaknya terkena epilespi atau yang lazim disebut ayan. Bayangan akan masa depan anak yang suram, ditambah lagi penderitaan anak yang sering mendadak kejang-kejang terus berkelebatan. Meski belum ada pengobatan yang benar-benar dapat menyembuhkan epilepsi, namun dengan pengobatan yang benar dan teratur lebih dari 80% anak pengindap epilepsi dapat hidup dengan normal. Hal ini sesuai dengan pendapat dari William R. Turk, MD, Kepala Divisi Neurology di Nemours Children’s’ Clinic, Jacksonville, Florida yang menyatakan bahwa: “Kita tak punya obat untuk menyembuhkan epilepsi, dan malangnya terapi serangan mendadak praktis tak ada. Cuma ada cara bagaimana mengelola serangan itu, namun demikian pada anak, tetap ada peluang.

Jika orangtua dapat memberikan pengobatan tepat, serangan mendadak mungkin bisa dienyahkan. Pandangan yang selama ini berkembang, epilepsi adalah sebuah penyakit turunan yang menular dan tidak bisa diobati. Ternyata hal ini dibantah oleh dua dokter anak yang merupakan pakar saraf anak FKUI/RSCM Jakarta, yakni Dr. Hardiono S Pusponegoro, Sp A dan Dr. Irawan Mangunatmadja, Sp A. Menurut kedua pakar tersebut, epilepsi bisa disembuhkan dengan total dan hanya 1% dari total penyandang epilepsi di Indonesia yang diturunkan secara genetika atau keturunan. Dan deteksi serta perawatan yang dini bagi penyandang epilepsi, terutama sejak balita sangat efektif menyembuhkannya dari penyakit epilepsi secara total.

Terdapat banyak definisi tentang epilepsi diantaranya adalah:

  1. Epilepsi merupakan lepas muatan listrik yang berlebihan dan mendadak, sehingga penerimaan serta pengiriman impuls dalam/dari otak ke bagian-bagian lain dalam tubuh terganggu.
  2. Epilepsi adalah penyakit serebral kronik dengan karekteristik kejang berulang akibat lepasnya muatan listrik otak yang berlebihan dan bersivat reversibel (Tarwoto, 2007)
  3. Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang datang dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas muatan listrik abnormal sel-sel saraf otak, yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi (Arif, 2000)
  4. Epilepsi adalah sindroma otak kronis dengan berbagai macam etiologi dengan ciri-ciri timbulnya serangan paroksismal dan berkala akibat lepas muatan listrik neron-neron otak secara berlebihan dengan berbagai manifestasi klinik dan laboratorik (anonim, 2008)

Jenis Epilepsi meliputi, epilepsi tonik klonik (grandmal), epilepsi absans (petit mal), epilepsi parsial sederhana, epilepsi parsial komplek, epilepsi atonik, dan epilepsi mioklonik. Penyakit efpilepsi disebabkan oleh bayak hal diantaranya: faktor genetik/turunan (meski relatif kecil antara 5-10 persen), kelainan pada menjelang-sesudah persalinan, cedera kepala, radang selaput otak, tumor otak, kelainan pembuluh darah otak, adanya genangan darah/nanah di otak, atau pernah mengalami operasi otak. Selain itu, setiap penyakit atau kelainan yang mengganggu fungsi otak dapat pula menyebabkan kejang. Bisa akibat trauma lahir, trauma kepala, tumor otak, radang otak, perdarahan di otak, hipoksia (kekurangan oksigen dalam jaringan), gangguan elektrolit, gangguan metabolisme, gangguan peredarah darah, keracunan, alergi dan cacat bawaan

Secara umum masyarakat di Indonesia salah mengartikan penyakit epilepsi. Akibatnya, penderita epilepsi sering dikucilkan. Padahal, epilepsi bukan termasuk penyakit menular, bukan penyakit jiwa, bukan penyakit yang diakibatkan “ilmu klenik”, dan bukan penyakit yang tidak bisa disembuhkan.

Sekitar 400.000 anak di AS mengidap epilepsi, dan mereka dapat mengendalikan serangan mendadak itu serta mampu hidup normal.Lalu bagaimana jika anak kena serangan mendadak? Biasanya serangan ini berlangsung amat cepat, dan Anda tak punya cukup banyak waktu untuk berbuat sesuatu. Peristiwa kejang-kejang, dengan mulut mengeluarkan busa, seringkali menjadi momen yang mencekam bahkan menakutkan. Dalam manghadapi hal tersebut, kita harus waspada dan tetap tenang sehingga dapat memberikan bantuan yang optimal.

Hal yang harus dilakukan pada saat penderita terkena serangan adalah:

  1. Hindarkan penderita dari benda-benda berbahaya yang berpotensi melukai dirinya
  2. Kendorkan pakaian di area leher, termasuk ikat pinggang
  3. Taruh bantal atau sesuatu yang lembut di bawah kepala
  4. Baringkan dia menghadap ke satu sisi

Hal yang tidak boleh dilakukan selama penderita terkena serangan:

  1. 1. Meletakkan benda di mulutnya. Jika penderita mungkin menggigit lidahnya selama serangan mendadak, menyisipkan benda di mulutnya kemungkinan tak banyak membantu. Anda malah mungkin tergigit, atau parahnya, tangan Anda malah mematahkan gigi si penderita.
  2. Mencoba membaringkan penderita. Orang, bahkan anak-anak, secara ajaib memiliki kekuatan otot yang luar biasa selama mendapat serangan mendadak. Mencoba membaringkan si penderita ke lantai bukan hal mudah dan tidak baik juga.
  3. Berupaya menyadarkan si penderita dengan bantuan pernapasan mulut ke mulut selama dia mendapat serangan mendadak, kecuali serangan itu berakhir. Jika serangan berakhir, segera berikan alat bantu pernapasan dari mulut ke mulut jika si penderita tak bernapas.

Kejang yang tiba-tiba datang pada penderita epilepsi dapat dicegah dengan cara:

  1. Demam tinggi pada penderita dapat diatas dengan cara memberi obat demam dengan penurun panas dan kompres dengan lap hangat (lebih kurang panasnya dengan suhu badan si penderita) selama kurang lebih 15 menit, bila mencapai 38.5 derajat celcius atau lebih
  2. Jangan melakukan pengkompresan dengan lap yang dingin, karena dapat menyebabkan korslet di otak (akan terjadi benturan kuat karena atara suhu panas tubuh si penderita dengan lap pres dingin)
  3. Kalau dinyatakan epilepsi, segera minum obat resep dokter secara teratur
  4. Sediakan obat anti kejang lewat dubur di rumah jika kejang membuat penderita tidak mungkin meminum obat.
  5. Sedia selalu obat penurun panas di rumah seperti parasetamol.

Terapi awal yang bisa dilakukan di rumah, adalah dengan campuran daun lidah buaya dan es batu. Cari daun lidah buaya secukupnya. Haluskan, kemudian dimasukkan ke dalam panci. Beri es batu, ditambah sedikit garam. Selanjutnya campuran tadi, digunakan untuk mengompres kepala. Lakukan sehari satu kali, selama tujuh hari berturut-turut.

(Dari berbagai sumber)

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

MENGENAL ANTISEPTIK


Antiseptik berasl dari bahasa Yunani yang secara singkat berarti kuman. Senyawa itu digunakan pada jaringan hidup atau kulit untuk mengurangi kemungkinan infeksi atau berkembangnya kuman. Harus dibedakan antara antiseptik dengan antibiotik yang berperan untuk membunuh kuman di dalam tubuh dan desinfektan, yaitu senyawa yang membunuh kuman dari benda mati. Beberapa jenis antibiotik ada yang berperan membunuh bakteri, ada juga yang hanya menghambat pertumbuhan bakteri.

Rivanol
Adalah zat kimia(etakridinlaktat) yang mempunyai sifat bakteriostatik(menghambat pertumbuhan kuman). Biasanya lebih efektif pada kuman gram positif daripada gram negatif. Sifatnya tidak terlalu menimbulkan iritasi dibandingkan dengan povidon iodin. Antiseptik tersebut sering digunakan untuk membersihkan luka. Rivanol lebih bagus untuk mengompres luka atau mengompres bisul, sedangkan povidon iodin lebih bagus untuk mencegah infeksi.
Serbuk rivanol berwarna kuning dengan konsentrasi sekitar 0,1% berperan dalam membunuh bakteri, namun tidak dapat digunakan untuk mengatasi kuman jenis tuberkolusis. Dengan demikian tidak efektif untuk mengatasi infeksi kulit yang disebabkan oleh kuman tuberkolusis.
Rivanol juga tidak dapat digunakan untuk mengatasi virus. Kegunaan antiseptik itu untuk membersihkan luka borok dan bernanah. Salah satu penggunaannya adalah untuk melakukan rendam duduk pada penderita bisul yang berada di dekat anus. Rivanol digunakan bila luka tidak terlalu kotor, dengan menggunakan kassa tutup luka tersebut. Jika luka sangat kotor, sebaiknya bersihkan dulu dengan air mengalir, dan pemilihan penggunaan antiseptik adalah dengan povidon iodin.

Alkohol
Merupakan jenis antiseptik yang cukup poten. Bekerja dengan cara menggumpalkan protein, struktur penting sel yang ada pada kuman, sehingga kuman mati. Kulit manusia biasanya tidak terpengaruh oleh alkohol, sehingga kulit tidak mengalami penggumpalan protein. Keuntungan lain alkohol adalah kemampuannya dalam mematikan kuman dengan cara meracuni, bukan melarutkan, sehingga relatif aman untuk kulit.
Tidak semua kuman mati dengan pemberian alkohol, namun setidaknya alkohol dapat berperan dalam menghambat pertumbuhan kuman. Alkohol berperan dalam menghambat pertumbuhan dan perkembangbiakkan banyak jenis mikroorganisme, termasuk bakteri, jamur, virus, dan protozoa. Jenis alkohol yang digunakan biasanya adalah jenis etil alkohol atau etanol, dengan konsentrasi optimum 70%.
Harus diperhatikan bahwa penggunaan obat tersebut pada kulit yang terkelupas dapat menimbulkan rasa terbakar, sehingga sebaiknya dihindari. Jangan salah menggunakan jenis metil alkohol atau dikenal dengan metanol. Alkohol jenis itu biasanya digunakan dalam industri dan tidak boleh digunakan sebagai antiseptik, karena dosis rendahnya saja dapat mengakibatkan masalah penglihatan dan gangguan saraf.

Povidon Iodin
Merupakan kelompok obat antiseptik yang dikenal dengan iodophore, biasanya orang mengenalnya sebagai betadine. Zat kimia itu bekerja secara perlahan mengeluarkan iodine, antiseptik yang dapat berperan dalam membunuh atau menghambat pertumbuhan kuman seperti bakteri, jamur, virus, protozoa, atau spora bakteri. Terdapat berbagai bentuk sediaan betadine.
Misalnya betadine yang dicampur dengan solusi alkohol, biasanya digunakan untuk pembersih kulit sebelum tindakan operasi. Sedangakan pada kondisi teradapat darah atau nanah, dan jaringan yang mati, betadine masih memiliki efek jika warnanya masih tampak. Sehingga jika luka diberikan betadine, dan masih muncul nanh, artinya pembersihan luka menggunakan betadine harus diulang kembali.
Betadine tidak boleh digunakan jika terbukti alergi terhadap yodium. Tanda alergi di antaranya kulit menjadi merah, bengkak, atau terasa gatal. Penggunaan yang sering dan terus-menerus harus dihindari jika pada saat yang bersamaan penderita juga mengkonsumsi obat lithium (biasanya mereka yang mengalami gangguan jiwa).
Seseorang yang sedang mengalami masalah dengan kelenjat tiroid dan perlu melakukan pemeriksaan kadar yodium dalam tubuh sebaiknya menghindari penggunaan betadine. Yodium yang terserap, kemungkinan dapat mengaburkan kadar pasti yodium di dalam tubuh. Padahal kadar tersebut diperlukan untuk menentukan terapi yang diberikan. Antiseptik jenis ini memiliki keunggulan dengan antiseptik jenis lain, karena jenis kuman yang dapat diatasi variasiny lebih banyak.

Antiseptik yang mengandung merkuri
Di antaranya adalah sublimat dan merkurokrom (obat merah). Sublimat berperan dalam menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur, selain itu juga berguna untuk mencuci luka. Senyawa itu merangsang kulit dan sering menimbulkan alergi. Karena mengandung merkuri, sebaiknya menghindari penggunaan obat tersebut. Karena merkuri diyakini dapat mengakibatkan berbagai jenis efek samping yang serius.
Merkurokrom (obat merah) dahulu sering digunakan, karena dapat mempercepat keringnya luka. Di luar negeri obat merah sudah dilarang karena mengandung merkuri dan berbahaya untuk tubuh. Hal tersebut yang harus diperhatikan. Jika masih ada yang menggunakan obat itu sebaiknya segera dihentikan. Selain itu manfaatnya dalam menghambat perkembangan bakteri juga lemah.

Hidrogen Peroksida
Digunakan dalam kadar 6% untuk membersihkan luka. Dalam kadar 1-2% biasanya digunakan untuk keperluan membersihkan luka yang sering terjadi di rumah. Misalnya terkena pisau, atau luka lainnya. Efek samping penggunaan hidrogen peroksida, dapat menimbulkan jaringan parut setelah luka sembuh. Selain itu bisa memperpanjang masa penyembuhan. Biasanya digunakan untuk mengatasi jenis kuman anaerob atau yang tidak membutuhkan oksigen. Hidrogen peroksida sebaiknya digunakan dengan air mengalir dan sabun untuk menghindari paparan berlebihan pada jaringan manusia.

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar